KESANTUNAN BERBAHASA DALAM TUTURAN NOVEL PERSONIFIKASI SASTRA DAN FILSAFAT

  • Welly Santiung
Keywords: Novel, Kesantunan, Sastra, Filsafat

Abstract

Novel menggunakan tuturan dan percakapan yang memenuhi prinsip kesantunan berbahasa. Permasalahan dalam penelitian ini yaitu: bagaimana penggunaan kesantunan berbahasa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kesantunan berbahasa. Menganalisis data kemudian diinterpretasikan menurut prinsip kesantunan berbahasa. Ketika kita membaca sebuah karya sastra, tentunya kita dapat melihat betapa indah karya sastra itu dengan gaya tulisannya masing masing. Keindahan itu dapat kita lihat mulai dari penuturan ide yang menggunakan simbol tertentu, alur atau jalan cerita yang unik, hingga pada konklusi dari cerita tersebut dibuat. Setiap penulis memiliki hak untuk membuat karyanya menjadi sesuatu yang bermakna dan dapat mempengaruhi masyarakat.

Secara asasi, baik karya sastra maupun filsafat merupakan suatu hasil refleksi penulisan ini atas keberadaan manusia. Hanya saja, jika sastra merupakan refleksi evaluatif, filasafat merupakan refleksi kritis. Harus diakui bahwa diantara karya sastra sejenis itu, terdapat karya yang lebih mengedepankan filsafat daripada sastranya atau sebaliknya. Dalam konteks itu, gagasan filsafat yang dibungkus ke dalam kemasan sastra haruslah tetap ditempatkan sebagai karya sastra. Gagasan yang terkandung dalam karya itu seyogianya menjadi bagian yang tak terpisahkan dari unsur kesastraan lainnya. Dengan demikian, gagasan filsafat akan melebur menjadi salah satu unsur yang justru ikut membangun nilai nilai estetika karya yang bersangkutan.

References

Alisjahbana, S. Takdir. 1984. Perjuangan tanggung Jawab dalam Kesustraaan. Jakarta Pustaka Jaya.

Alviah, Iin. 2014. Kesantunan Berbahasa Dalam Tuturan Novel Para Priyayi Karya Umar Kayam. Seloka: Jurnal Pendidikan Bahasa. https://www.google.com/search?q=daftar+pustaka+Riniwati+(2004+tentang+sastra&rlz=1C1CHBD_enID849ID849&oq=daftar+pustaka+Riniwati+(2004+tentang+sastra&aqs=chrome..69i57.1501j0j9&sourceid=chrome&ie=UTF-8. Diakses 23 Oktober 2019.

Alwasilah, A. Chaedar. 1993. Pengantar Sosiolinguistik Bahasa. Bandung: Angkasa.

Austin, J.L. 1962. How to Do Things with Words. London: Oxford University Press.

Budiyati, 2009. Silabus, Handout dan Media Pembelajaran Apresiasi Drama. Semarang: UNNES

Fananie, Zainuddin. 20004. Telaah Sastra. Surakarta: Muhammadiyah University Press.

http://id.wikipedia.org/wiki/Sastra. Diakses 10 Oktober 2018.

http://www.e-jurnal.com/2018/11/pengertian-novel-menurut-para-ahli.html. Diakses 15 Oktober 2018.

Kayam, Umar. 1992. Para Priyayi. Jakarta: PT. Pustaka Utama Grafiti.

Kosasih, Engkos. 2006. Cerdas Berbahasa Indonesia. Jakarta : Erlangga.

Leech, Geoffrey. 1993. Prinsip-prinsip Pragmtik (Diterjemahkan oleh Oka). Jakarta: Balai Pustaka.

Lexy J. Moleong. 2006. Metodologi Penelitiann Kualitatif Edisi Revisi, Cetakan

keduapuluh dua, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Offset.

Rahardi, Kunjana. 2000. Imperatif dalam Bahasa Indonesia. Yogyakarta: UGM.

Rahardi, Kunjana. 2008. Pragmatik: Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia. Yogyakarta: PT Gelora Aksara Pratama.

Sawali dalam otonomi pengajaran sastra (htttp://sawali.info/2007/07/15/otonomipengajaran-sastra/. diakses tanggal 22 Oktober 2018).

Syamsuddin. A.R. 2005. Cerdas Berbahasa Dan Sastra Indonesia. Solo : PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.

Tresnawati, Tjetje. 1998. Tindak Tutur Percakapan dalam Novel Sekayu Karya Nh. Dini. Tesis. Semarang: IKIP Semarang.

Wijana, I Dewa Putu & Rohmadi. Muhammad. 2009. Analisis Wacana Pragmatik: Kajian Teori dan Analisis. Surakarta: Yuma Pustaka.

Published
2019-12-13
How to Cite
Santiung, W. (2019). KESANTUNAN BERBAHASA DALAM TUTURAN NOVEL PERSONIFIKASI SASTRA DAN FILSAFAT. KLASIKAL : JOURNAL OF EDUCATION, LANGUAGE TEACHING AND SCIENCE, 1(3), 1-11. https://doi.org/10.0906/klasikal.v1i3.28